Wednesday, May 7, 2008

Just Wanna Say

Menjelang akhir periode pemerintahan ini, telah banyak kebijakan yang diambil oleh Pemerintah justru semakin menekan kehidupan rakyat. Meningkatnya harga-harga sembako dan BBM, ternyata tidak diimbangi dengan pendapatan masyarakat. Saat ini masyarakat disibukkan dengan pilkada yang dilaksanakan di beberapa daerah. Keterbuaian itu semakin besar dengan janji-janji politis yang terucap manis ketika berorasi, sehingga ajang kampanye sering dijadikan ajang penjualan ”kecap” dan promosi bakat seperti acara talk show di TV.

Fenomena artis masuk gelanggang politik, menunjukkan telah terjadi perubahan di masyarakat. Banyaknya sinetron dan talk show yang menjual kesedihan, ketampanan dan kecantikan semakin membuat masyarakat Indonesia terjerumus dalam budaya sinetron. Tidak salah kemudian anak-anak kecil pun di sekolah ngobrol tentang hujan, nggak dapat ojek, becekkkkk lagiii. Apakah ini sistem pendidikan di Indonesia?

Di tengah keterpurukan budaya Indonesia, banyak kepala sekolah dan guru-guru yang mungkin sayang dengan anak didiknya berani untuk membocorkan soal ujian nasional karena melihat tingginya standart ujian yang diberikan. Ya inilah Indonesia ku yang tercinta

Tapi bisa saja dimaklumi karena rakyat tentulah bercermin dari pemimpinnya. Kasus korupsi yang menimpa salah satu anggota DPR dari fraksi PPP, membenarkan persepsi mayarakat sesuai dengan lirik lagu yang ditulis oleh group band Slank. (Makanya buat bapak-bapak di Bbadan Kehormatan DPR, yang sering banyak omong di TV kalian tuh tugasnya apa?Kehormatan apa sih yang kalian jag?cepat tersinggung tapi kok bobrok sendiri ditutupi,capekkkkk dehhhh). Tapi itulah kondisi yang terjadi di Indonesia, moral dan karakter bangsa makin lama makin terpuruk. Budaya sendiri dicuri oleh tetangga sendiri kita seperti adem-adem saja, lalu digertak oleh negara yang baru dibentuk kemarin eh kita bersembunyi di balik wajah yang penuh maaf.

Di kota Yogyakarta sendiri masyarakat semakin sibuk dengan penggalangan kekuatan untuk mendukung penetapan Gubernur DIY (emang ngak ada pekerjaan yang lain?). Kalaupun itu adalah keinginan dari rakyat, kenapa harus dikumpulkan massa bahkan melalui birokrasi-birokrasi desa. Bahkan saat ini beberapa kantor kecamatan menjadi base camp penggalangan kekuatan masyarakat yang pro penetapan.

Saat ini kita mungkin tidak sadar bahwa kota yoga bukan lagi kota pendidikan tapi kota iklan. Banyaknya PT ternyata tidak menjamin pola pikir dan corak masyarakat di sekitarnya. Intelektual yang lahir dari kota Gudeg ini semakin lama semakin tidak jelas keberadaanya. Walaupun arahnya tidak jelas tetapi mereka dapat kita temui di tempat2 hiburan dan bisa dicek ketika acara nonton bareng liga inggris kabarnya cafe-cafe penuh dengan mahasiswa yang tidak mampu membayar sewa astro???

Teriring lagu Kla Project - Yogyakarta, harapannya dengan moment kebangkitan di bulan Mei ini rakyat Indonesia terutama di Yogyakarta semakin bersatu. Satukan tekad dan kekuatan untuk perubahan di Indonesia. Tuntaskan reformasi

Pulang ke kotamu

Ada setangkup haru dalam rindu

Masih seperti

Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh

selaksa makna

Terhanyut aku akan nostalgia

Saat kita sering Iuangkan waktu

Nikmati bersama suasana Jogja

Di persirnpangan langkahku terhenti

Ramai kaki lima

Menjajakan sajian khas berselera

Orang duduk bersila

(*)

Musisi jalanan mulai beraksi

Seiring laraku kehilanganmu

Merintih sendiri

Ditelan deru kotamu

Reff

Walau kini kau t'lah tiada tak kembali

Namun kotamu hadirkan senyummu abadi

Ijinkanlah aku untuk s'lalu pulang lagi

Bila hati mulai sepi tanpa terobati

Kembali ke: Reff

28 April 2008

Reynold Lumi

Ketua Presidium PMKRI Cabanag Yogyakarta

Periode 2007-2008

No comments: